Self Healing Bagi Working Mom

Tidak ada komentar

 

Menjadi seorang ibu sekaligus perempuan yang bekerja bukanlah perkara mudah. Ada banyak peran yang harus dijalani dalam satu waktu. Pagi hari sibuk menyiapkan kebutuhan keluarga, berangkat bekerja dengan berbagai target yang harus diselesaikan, menghadapi kemacetan atau cuaca panas di perjalanan, lalu pulang ke rumah untuk kembali menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri.

Sebagai seorang working mom yang tinggal di Balikpapan ini, saya merasakan bahwa kehidupan sehari-hari sering kali berjalan begitu cepat. Rasanya baru saja membuka mata pada pagi hari, tetapi tiba-tiba sudah malam lagi. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, anak-anak yang membutuhkan perhatian, rumah yang perlu diurus, hingga waktu istirahat yang terkadang justru menjadi hal terakhir dalam daftar prioritas.

Dalam rutinitas seperti ini, saya mulai menyadari bahwa menjaga kesehatan fisik saja tidak cukup. Kesehatan mental juga perlu mendapatkan perhatian. Saya membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali merasa tenang.

Di sinilah saya mulai memahami pentingnya self healing. Bukan sekadar mengikuti tren gaya hidup atau pergi berlibur untuk menghilangkan penat, melainkan belajar mengenali emosi, menerima kelelahan, dan merawat diri agar tetap mampu menjalani berbagai peran dengan lebih sehat.

Tantangan Menjadi Working Mom di Balikpapan

Menjadi ibu bekerja berarti memiliki dua tanggung jawab besar yang berjalan beriringan. Di tempat kerja, saya dituntut untuk profesional, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan memenuhi target yang telah ditentukan. Sementara itu, di rumah, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran saya.

Tidak jarang kedua tanggung jawab tersebut terasa saling bertabrakan.

1. Pagi Hari Selalu Dimulai dengan Kesibukan

Hari seorang working mom biasanya dimulai lebih awal daripada anggota keluarga lainnya. Sebelum berangkat bekerja, saya harus memastikan kebutuhan keluarga sudah dipersiapkan. Mulai dari menyiapkan sarapan, mengecek perlengkapan anak, memastikan pakaian siap digunakan, hingga menyelesaikan pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan sebelum meninggalkan rumah.

Kadang-kadang, rencana yang sudah disusun dengan rapi pun tidak berjalan sesuai harapan. Anak yang sulit bangun, barang yang mendadak hilang, atau pekerjaan rumah yang belum selesai bisa membuat pagi terasa begitu melelahkan.

Belum lagi ketika harus berpacu dengan waktu agar tidak terlambat sampai kantor.

Jika semua hal tersebut terjadi bersamaan, emosi bisa menjadi lebih mudah tersulut. Padahal, hari bahkan belum benar-benar dimulai.

Saya belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan pada pagi hari. Ada kalanya saya perlu menentukan prioritas, meminta bantuan anggota keluarga, dan menerima kenyataan bahwa rumah tidak harus selalu sempurna.

2. Tantangan Perjalanan dan Cuaca di Balikpapan

Tinggal di Balikpapan memiliki dinamika tersendiri. Sebagai kota yang berkembang dengan aktivitas bisnis, perdagangan, jasa, dan industri, mobilitas sehari-hari menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.

Bagi saya, perjalanan menuju tempat kerja juga membutuhkan energi. Cuaca panas, perubahan cuaca yang terkadang tidak menentu, kepadatan lalu lintas pada jam-jam tertentu, dan waktu perjalanan yang harus diperhitungkan bisa menambah kelelahan sebelum pekerjaan dimulai.

Ketika tiba di kantor, terkadang energi sudah berkurang. Namun, pekerjaan tetap menunggu dan saya harus kembali mengumpulkan fokus.

Hal serupa juga terjadi ketika pulang kerja. Tubuh mungkin sudah lelah, tetapi sesampainya di rumah masih ada berbagai tanggung jawab yang menanti.

Karena itu, saya mulai memahami bahwa kelelahan bukan hanya berasal dari pekerjaan yang menumpuk. Perjalanan, kebisingan, perubahan cuaca, dan berbagai hal kecil yang terjadi sepanjang hari juga bisa memengaruhi suasana hati.

Memberikan jeda singkat untuk diri sendiri menjadi salah satu cara agar saya tidak terus-menerus memaksakan tenaga.

3. Rasa Bersalah karena Merasa Kurang Hadir untuk Anak

Salah satu tantangan emosional terbesar bagi working mom adalah rasa bersalah.

Ada kalanya saya merasa sedih karena tidak bisa selalu menemani anak sepanjang hari. Ketika harus bekerja, ada momen tumbuh kembang anak yang mungkin tidak bisa saya saksikan secara langsung. Saat pulang, terkadang tubuh sudah terlalu lelah untuk bermain atau mendengarkan cerita mereka dengan perhatian penuh.

Di sisi lain, bekerja juga merupakan bagian dari tanggung jawab dan pilihan hidup yang memiliki banyak manfaat bagi keluarga.

Saya ingin membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, memiliki kesempatan mengembangkan diri, dan tetap produktif sebagai seorang perempuan.

Namun, keinginan untuk menjadi ibu yang selalu hadir dan pekerja yang selalu bisa diandalkan terkadang membuat saya merasa harus melakukan semuanya dengan sempurna.

Seiring waktu, saya belajar bahwa menjadi ibu yang baik bukan berarti harus selalu tersedia setiap saat. Anak juga membutuhkan ibu yang sehat, tenang, dan mampu memberikan perhatian dengan tulus.

Daripada terus menyalahkan diri sendiri karena waktu yang terbatas, saya mencoba memaksimalkan waktu bersama keluarga. Makan malam bersama, mendengarkan cerita anak, membaca buku sebelum tidur, atau sekadar mengobrol tanpa gangguan ponsel bisa menjadi momen sederhana yang bermakna.

4. Sulit Memisahkan Urusan Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Tantangan berikutnya adalah membawa pikiran tentang pekerjaan sampai ke rumah.

Meskipun jam kerja sudah berakhir, pikiran terkadang masih dipenuhi laporan yang belum selesai, pesan dari rekan kerja, tenggat waktu, atau rencana pekerjaan untuk keesokan hari.

Akibatnya, tubuh berada di rumah, tetapi pikiran masih tertinggal di kantor.

Kondisi ini membuat waktu bersama keluarga terasa kurang berkualitas. Saya bisa saja duduk bersama anak-anak, tetapi perhatian masih tertuju pada pekerjaan.

Karena itu, saya berusaha membangun batas yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika memungkinkan, pekerjaan diselesaikan selama jam kerja. Pesan yang tidak mendesak bisa ditanggapi pada waktu yang sesuai, sementara waktu istirahat digunakan untuk benar-benar beristirahat.

Saya menyadari bahwa menjadi pekerja yang bertanggung jawab tidak berarti harus selalu siap bekerja selama 24 jam.

Apa Itu Self Healing dan Mengapa Penting bagi Working Mom?

Istilah self healing semakin sering digunakan ketika membicarakan kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Secara umum, istilah ini merujuk pada berbagai upaya yang dilakukan seseorang untuk memulihkan diri secara emosional, memahami pengalaman yang dirasakan, dan membangun kembali kesejahteraan dirinya.

Dalam kehidupan seorang working mom, self healing bisa berarti memberikan waktu untuk beristirahat setelah hari yang panjang, menerima emosi yang muncul, mengurangi tekanan untuk menjadi sempurna, atau mencari bantuan ketika masalah terasa terlalu berat.

Self healing bukan berarti semua masalah harus diselesaikan sendirian. Istilah ini juga bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan mental yang membutuhkan penanganan.

Bagi saya, self healing adalah pengingat bahwa diri sendiri juga layak mendapatkan perhatian.

Selama ini, saya terbiasa memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Saya memikirkan makanan yang akan disajikan, pekerjaan yang harus diselesaikan, kebutuhan anak, dan berbagai hal lain yang harus diatur.

Namun, terkadang saya lupa bertanya kepada diri sendiri, "Sebenarnya, hari ini aku baik-baik saja atau tidak?"

Pertanyaan sederhana tersebut membuat saya belajar mengenali perasaan sendiri. Apakah saya sedang lelah, kecewa, sedih, kewalahan, atau hanya membutuhkan waktu untuk diam sejenak?

Mengenali emosi adalah langkah awal untuk merawat diri dengan lebih baik.

10 Cara Self Healing untuk Working Mom di Balikpapan

Self healing tidak selalu membutuhkan biaya besar atau waktu liburan yang panjang. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten bisa membantu working mom menjalani hari dengan lebih seimbang.

Berikut beberapa cara yang bisa saya lakukan di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga.

1. Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Saya dulu sering menganggap bahwa waktu luang sebaiknya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Ketika anak-anak sedang bermain atau anggota keluarga lain sedang beristirahat, rasanya sayang jika waktu tersebut tidak dimanfaatkan untuk membereskan sesuatu.

Namun, jika setiap waktu luang selalu diisi pekerjaan, kapan saya bisa beristirahat?

Sekarang saya mencoba menyediakan waktu khusus untuk diri sendiri, meskipun hanya 10–15 menit sehari.

Saya bisa duduk sambil menikmati teh atau kopi, membaca buku, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau sekadar duduk tanpa memikirkan pekerjaan berikutnya.

Waktu singkat tersebut bukan bentuk kemalasan. Saya menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengisi kembali energi yang sudah digunakan sepanjang hari.

2. Berani Mengatakan Lelah

Sebagai ibu, terkadang saya merasa harus selalu kuat. Ada anggapan bahwa seorang ibu seharusnya mampu mengurus banyak hal tanpa mengeluh.

Padahal, merasa lelah adalah hal yang manusiawi.

Saya belajar bahwa mengakui kelelahan tidak membuat saya menjadi ibu yang buruk atau pekerja yang tidak profesional.

Ketika merasa kewalahan, saya berusaha mengomunikasikannya kepada pasangan atau keluarga. Saya bisa meminta bantuan menyiapkan makanan, menemani anak, atau mengambil alih sebagian pekerjaan rumah.

Pembagian tanggung jawab yang lebih adil dapat mengurangi beban yang selama ini terasa harus saya tanggung sendiri.

Self healing juga berarti berhenti memaksakan diri dan mulai memahami batas kemampuan pribadi.

3. Mengurangi Standar Kesempurnaan

Media sosial terkadang membuat saya merasa bahwa perempuan lain bisa melakukan semuanya dengan mudah.

Ada yang terlihat sukses dalam karier, memiliki rumah rapi, menyiapkan makanan sehat setiap hari, selalu tampil menarik, dan tetap punya banyak waktu untuk keluarga.

Tanpa disadari, saya membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat di layar.

Padahal, setiap keluarga memiliki situasi dan tantangan berbeda.

Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal harus sempurna. Makanan sederhana tetap bisa menjadi hidangan keluarga yang menyenangkan. Rumah yang sedikit berantakan bukan berarti saya gagal mengurusnya. Pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama juga tidak selalu menunjukkan bahwa saya kurang kompeten.

Saya ingin menjalani hidup dengan standar yang realistis, bukan terus-menerus mengejar ekspektasi yang melelahkan.

4. Menikmati Me Time di Sekitar Balikpapan

Salah satu bentuk self healing yang bisa dicoba working mom adalah menikmati waktu sendiri di luar rumah.

Balikpapan memiliki sejumlah ruang publik dan tempat rekreasi yang bisa menjadi pilihan untuk mencari suasana berbeda.

Misalnya, saya bisa berjalan santai di kawasan Pantai Kemala, menikmati suasana pesisir di Pantai Lamaru, atau mencari udara segar sambil berjalan di area Taman Bekapai.

Sesekali, menikmati kopi di kafe favorit, makan siang sendiri, atau membaca buku di tempat yang tenang juga bisa menjadi kegiatan sederhana yang menyenangkan.

Saya tidak harus selalu pergi bersama keluarga atau teman. Ada kalanya saya ingin menikmati waktu sendiri tanpa harus mengatur jadwal orang lain.

Tentu saja, pilihan tempat dan waktu perlu disesuaikan dengan kondisi lalu lintas, cuaca, anggaran, dan jadwal keluarga.

Jika tidak sempat keluar rumah, saya tetap bisa menciptakan suasana nyaman dengan merapikan sudut favorit, menyalakan musik, atau menikmati waktu tenang setelah semua tanggung jawab utama selesai.

Yang terpenting bukan seberapa jauh saya pergi, melainkan apakah kegiatan tersebut membantu saya merasa lebih rileks dan terhubung kembali dengan diri sendiri.

5. Berjalan Kaki dan Menikmati Alam

Aktivitas fisik ringan juga bisa menjadi bagian dari rutinitas self healing.

Saya bisa meluangkan waktu untuk berjalan kaki selama 10–20 menit, melakukan peregangan setelah bekerja, atau berolahraga ringan pada pagi maupun sore hari.

Jika kondisi memungkinkan, berjalan santai di ruang terbuka bisa memberikan kesempatan untuk menjauh sejenak dari layar komputer dan ponsel.

Saat berada di luar ruangan, saya tetap perlu memperhatikan cuaca Balikpapan. Jika matahari terasa terik, saya bisa memilih waktu yang lebih sejuk, menggunakan pelindung matahari, membawa air minum, dan menghindari aktivitas berat saat cuaca terlalu panas.

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga intensif. Gerakan ringan yang dilakukan secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung suasana hati.

6. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Setelah seharian bekerja, saya sering ingin membuka media sosial untuk mencari hiburan. Namun, terkadang kegiatan tersebut justru membuat waktu istirahat berlalu begitu saja.

Awalnya hanya ingin melihat beberapa unggahan, tetapi tanpa sadar sudah menghabiskan waktu cukup lama.

Belum lagi ketika melihat pencapaian orang lain, promosi pekerjaan, gaya hidup, atau berbagai standar kehidupan yang membuat saya merasa tertinggal.

Karena itu, saya mencoba lebih sadar dalam menggunakan media sosial.

Saya bisa membatasi waktu penggunaan ponsel, mematikan notifikasi pekerjaan di luar jam kerja jika memungkinkan, dan berhenti mengikuti akun yang membuat saya terus membandingkan diri dengan orang lain.

Sebagai gantinya, saya menggunakan waktu tersebut untuk membaca, berbincang dengan keluarga, atau beristirahat.

Media sosial seharusnya menjadi sarana hiburan dan komunikasi, bukan sumber tekanan tambahan.

7. Menulis Jurnal untuk Mengenali Perasaan

Ketika terlalu banyak hal terjadi dalam sehari, terkadang sulit memahami apa yang sebenarnya membuat saya merasa lelah.

Apakah karena pekerjaan yang menumpuk? Apakah karena kurang tidur? Atau karena merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup?

Menulis jurnal bisa membantu saya mengenali perasaan tersebut.

Saya tidak harus menulis panjang. Cukup menjawab tiga pertanyaan sederhana sebelum tidur:

  • Apa hal yang paling melelahkan hari ini?

  • Apa hal kecil yang membuat saya merasa bersyukur atau bahagia?

  • Apa yang bisa saya lakukan agar besok terasa sedikit lebih ringan?

Dengan menulis, saya bisa melihat pola emosi dan memahami kebutuhan diri sendiri dengan lebih baik.

Jurnal juga bisa menjadi ruang pribadi untuk mengekspresikan perasaan tanpa harus takut dinilai orang lain.

8. Menjaga Kualitas Tidur

Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan lebih sensitif terhadap tekanan.

Sayangnya, tidur cukup terkadang menjadi tantangan bagi working mom. Setelah pulang kerja, masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Ketika semua sudah beres, waktu istirahat justru semakin sedikit.

Saya berusaha memperbaiki kebiasaan tidur secara bertahap. Misalnya, menetapkan waktu tidur yang lebih teratur, mengurangi penggunaan ponsel menjelang tidur, dan membatasi pekerjaan yang tidak mendesak pada malam hari.

Saya juga mulai menerima bahwa tidak semua pekerjaan rumah harus selesai dalam satu malam.

Jika memungkinkan, meminta bantuan pasangan atau anggota keluarga untuk berbagi tugas dapat membantu saya mendapatkan waktu istirahat yang lebih cukup.

Self healing akan terasa lebih sulit ketika tubuh terus-menerus kelelahan. Karena itu, istirahat bukan hadiah setelah semua pekerjaan selesai, melainkan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

9. Menikmati Hobi yang Sudah Lama Ditinggalkan

Sebelum memiliki banyak tanggung jawab, mungkin saya memiliki hobi yang membuat saya bahagia. Bisa berupa membaca novel, memasak resep baru, berkebun, menonton film, merawat tanaman, atau memotret tempat-tempat menarik.

Namun, setelah bekerja dan mengurus keluarga, hobi tersebut perlahan tersisih.

Saya ingin kembali memberikan ruang bagi kegiatan yang saya sukai.

Tidak harus setiap hari dan tidak perlu dilakukan dalam waktu lama. Saya bisa menonton satu episode serial favorit, membaca beberapa halaman buku, mencoba resep sederhana saat akhir pekan, atau mengambil foto ketika berjalan-jalan di Balikpapan.

Melakukan kegiatan yang menyenangkan membantu saya mengingat bahwa identitas saya bukan hanya sebagai pekerja, ibu, atau istri.

Saya juga seorang individu yang memiliki minat, keinginan, dan kebutuhan pribadi.

10. Mencari Bantuan Ketika Dibutuhkan

Ada kalanya istirahat, liburan singkat, atau melakukan hobi belum cukup untuk mengatasi tekanan yang dirasakan.

Jika perasaan sedih, cemas, kehilangan minat, kelelahan emosional, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari terus berlangsung, saya perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.

Psikolog atau psikiater dapat membantu memahami masalah yang dihadapi dan menentukan dukungan yang sesuai.

Saya juga bisa mulai dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, seperti pasangan, keluarga, atau sahabat, selama hubungan tersebut terasa aman dan mendukung.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru, hal itu menunjukkan bahwa saya berusaha menjaga diri agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih sehat.

Self Healing Tidak Harus Mahal: Mengatur Waktu dan Anggaran

Sebagai working mom, saya juga perlu realistis dalam memilih kegiatan self healing. Waktu terbatas, tanggung jawab keluarga banyak, dan anggaran rumah tangga tetap harus diperhitungkan.

Saya tidak ingin kegiatan merawat diri justru menjadi sumber stres baru karena menghabiskan uang di luar kemampuan.

Sebab, tujuan self healing bukan mengikuti gaya hidup orang lain, melainkan menemukan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi diri sendiri.

Mengatur Waktu agar Working Mom Tidak Mudah Burnout

Selain melakukan self healing, saya juga perlu mengevaluasi rutinitas sehari-hari. Sebab, jika penyebab kelelahan terus berulang tanpa perubahan, waktu istirahat sesekali mungkin belum cukup membantu.

Ada beberapa kebiasaan yang ingin saya terapkan.

Pertama, membuat prioritas harian. Saya membedakan pekerjaan yang benar-benar harus selesai hari ini dengan pekerjaan yang masih bisa ditunda. Cara ini membantu mengurangi tekanan untuk menyelesaikan semuanya sekaligus.

Kedua, menghindari kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus. Multitasking memang terkadang diperlukan, tetapi jika dilakukan terus-menerus, perhatian mudah terpecah. Saya mencoba menyelesaikan pekerjaan satu per satu sesuai prioritas.

Ketiga, membangun komunikasi dengan pasangan dan keluarga. Urusan rumah tangga sebaiknya tidak menjadi tanggung jawab satu orang saja. Pembagian tugas yang jelas dapat membantu semua anggota keluarga berkontribusi.

Keempat, memanfaatkan waktu istirahat dengan bijak. Waktu makan siang atau jeda di antara pekerjaan bisa digunakan untuk makan dengan tenang, berjalan sebentar, atau menarik napas perlahan. Saya tidak harus menggunakan setiap menit untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan.

Kelima, belajar mengatakan tidak. Saya tidak harus menerima semua permintaan atau mengambil setiap tanggung jawab tambahan. Saya perlu mempertimbangkan kemampuan, waktu, dan energi sebelum menyanggupi sesuatu.

Langkah-langkah ini bukan jaminan bahwa saya tidak akan pernah mengalami kelelahan. Namun, kebiasaan tersebut dapat membantu saya mengelola beban sehari-hari dengan lebih realistis.

Menjadi Ibu yang Bahagia Bukan Berarti Harus Selalu Kuat

Ada satu hal yang semakin saya pahami seiring menjalani kehidupan sebagai working mom: saya tidak harus selalu terlihat kuat.

Ada hari ketika pekerjaan berjalan lancar dan saya merasa mampu menyelesaikan semuanya. Namun, ada juga hari ketika pekerjaan terasa menumpuk, anak membutuhkan perhatian lebih, dan tubuh rasanya ingin beristirahat saja.

Saya ingin memberikan ruang bagi kedua kondisi tersebut.

Saya boleh merasa sedih tanpa harus langsung mencari sisi positif dari semuanya. Saya boleh merasa lelah tanpa merasa bersalah. Saya juga boleh mengambil waktu untuk diri sendiri tanpa menganggap bahwa saya sedang mengabaikan keluarga.

Justru dengan mengenali batas kemampuan, saya bisa lebih memahami kapan harus bergerak, kapan harus beristirahat, dan kapan harus meminta pertolongan.

Bagi saya, menjadi ibu yang bahagia bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah. Kebahagiaan justru bisa tumbuh ketika saya mampu menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan bahwa diri sendiri juga membutuhkan perhatian.

Saya tidak ingin anak-anak hanya mengenal saya sebagai ibu yang sibuk bekerja dan mengurus rumah. Saya ingin mereka juga melihat bahwa merawat diri, mengelola emosi, dan meminta bantuan ketika dibutuhkan merupakan bagian penting dari kehidupan.

Dengan begitu, mereka bisa belajar bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan atau dianggap tabu.

Contoh Rutinitas Self Healing Sederhana untuk Working Mom

Agar lebih mudah diterapkan, saya bisa mencoba rutinitas sederhana berikut. Jadwal ini fleksibel dan dapat disesuaikan dengan jam kerja, kebutuhan anak, serta kondisi keluarga.

Pagi hari

  • Meluangkan beberapa menit untuk menarik napas perlahan sebelum memulai aktivitas.

  • Menentukan tiga prioritas utama hari itu.

  • Menyiapkan sarapan dan kebutuhan keluarga tanpa menuntut semuanya harus sempurna.

Saat bekerja

  • Mengambil jeda singkat setelah menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

  • Menikmati makan siang tanpa terus-menerus memeriksa pesan pekerjaan.

  • Melakukan peregangan ringan atau berjalan sebentar jika memungkinkan.

Setelah pulang kerja

  • Memberikan waktu transisi sebelum melanjutkan aktivitas di rumah.

  • Mengobrol dengan pasangan atau anak tanpa gangguan ponsel.

  • Membagi pekerjaan rumah sesuai kemampuan masing-masing anggota keluarga.

Malam hari

  • Mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur.

  • Menulis jurnal singkat tentang pengalaman hari itu.

  • Menentukan waktu tidur yang realistis dan menghindari pekerjaan yang tidak mendesak.

Pada akhir pekan, saya bisa memberikan waktu lebih panjang untuk melakukan hobi, mengunjungi tempat favorit di Balikpapan, atau sekadar beristirahat di rumah.

Saya juga tidak harus menjalankan seluruh rutinitas tersebut setiap hari. Jika hari sedang sangat sibuk, melakukan satu hal kecil untuk diri sendiri sudah merupakan langkah yang berarti.

Penutup: Self Healing adalah Bentuk Kasih Sayang kepada Diri Sendiri

Menjalani kehidupan sebagai working mom di Balikpapan membuat saya memahami bahwa keseimbangan hidup tidak datang begitu saja. Ada banyak hal yang perlu diatur, dikomunikasikan, dan terkadang dilepaskan.

Saya tidak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi di tempat kerja, perjalanan, maupun rumah. Namun, saya bisa mulai belajar mengenali kebutuhan diri, menentukan prioritas, membangun batas yang sehat, dan mencari dukungan ketika diperlukan.

Self healing bukan berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Bagi saya, self healing adalah cara untuk berhenti sejenak, memahami apa yang sedang dirasakan, dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih sadar.

Tidak harus pergi jauh, menginap di hotel mewah, atau menghabiskan banyak uang. Terkadang, duduk menikmati minuman favorit, berjalan santai menikmati suasana kota, membaca buku, atau tidur lebih awal sudah menjadi bentuk perawatan diri yang berarti.

Saya ingin terus belajar menjadi perempuan yang mampu menjalankan tanggung jawab tanpa melupakan kebutuhan pribadinya sendiri.

Sebab, saya bukan hanya seorang pekerja. Saya bukan hanya seorang ibu atau istri. Saya juga seorang individu yang berhak merasa bahagia, memiliki waktu untuk diri sendiri, dan menjalani kehidupan dengan sehat secara fisik maupun mental.

Untuk semua working mom yang sedang berjuang menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, mari belajar memberikan kasih sayang yang sama kepada diri sendiri seperti yang selama ini kita berikan kepada orang-orang tercinta.

Kita tidak harus sempurna setiap hari. Kita hanya perlu terus belajar menemukan keseimbangan yang paling sesuai dengan kehidupan kita masing-masing.


Tidak ada komentar