Masak Buat Keluarga Boleh, Tapi Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!

 


Dua tahun belakangan ini Saya sedang menekuni dunia yang berbeda dari biasanya. Saya menekuni dunia masak-memasak. Tapi ada yang berbeda, biasanya saya memasak voice overnya menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. Meski agak belibet karena beberapa kali saya harus membuka kamus bahasa jawa karena keterbatasan pengetahuan saya. Maklum sejak kecil hingga seusia ini kebanyakan saya dibesarkan di luar pulau jawa.

Bagi seorang konten kreator cooking seperti saya, dapur bukan hanya tempat memasak. Dapur adalah tempat saya bekerja, berkarya, bereksperimen, sekaligus menghasilkan berbagai cerita yang kemudian saya bagikan kepada para followers.

Hampir setiap hari aktivitas saya dimulai dari meja dapur. Menyiapkan bahan, mencuci sayuran, memotong cabai, mengulek bumbu, menyalakan kompor, menggoreng, mengambil gambar, mengatur angle kamera, sampai memastikan makanan terlihat menggugah selera di depan kamera.

Setelah urusan memasak selesai, pekerjaan belum benar-benar berakhir. Saya masih harus duduk di depan laptop untuk memindahkan file video, melakukan editing, membuat caption, membalas komentar, mengecek performa konten, hingga live di depan kamera untuk berbagi resep dan berinteraksi dengan followers.

Dulu saya mengira aktivitas seperti itu hanya membuat badan dan pikiran lelah. Ternyata, mata saya juga bisa ikut "protes". Bahkan dodolnya saya malah sering abai dengan alarm dari kedua mata, padahal kalau untuk pertolongan pertama ada INSTO DRY EYES  yang sat set mengatasi mata kering terlambat penangannya bisa menjadi parah kan?

Dapur Adalah Tempat Saya Berkarya

Saya masih ingat salah satu momen yang sudah lama saya nantikan. Saat itu saya berencana membuat konten spesial untuk ulang tahun pernikahan saya, menu favorit keluarga yang ingin saya bagikan juga di media sosial. Tumpeng nasi kuning. Entahlah bagi kami nasi kuning menjadi tahta tertinggi ketika menyambut hari spesial.

Sejak pagi saya sudah menyiapkan semuanya. Bahan-bahan sudah lengkap, kamera sudah terpasang, tripod sudah berada di posisi yang tepat, dan pencahayaan juga sudah saya atur.

Menu hari itu cukup menantang karena menggunakan banyak cabai merah kering untuk masak bumbu habang telur (Sambal balado) yang merupakan lauk dari nasi kuning khas Banjar.

Bagi konten kreator cooking, makanan yang terlihat pedas dan menggugah selera memang menjadi daya tarik tersendiri. Saya pun mulai menumis bumbu, memasukkan cabai, lalu melanjutkan proses memasak.

Tidak lama kemudian, asap dan aroma bumbu mulai memenuhi dapur.

Ketika cabai bertemu minyak panas, asapnya terasa semakin strong. Saya yang sedang fokus mengaduk masakan sempat memicingkan mata karena terasa kurang nyaman.

Awalnya saya hanya berpikir,

"Ah, paling sebentar juga hilang."

Saya kembali melanjutkan proses membuat konten.

Setelah masakan selesai, saya langsung mengambil beberapa footage untuk video. Belum selesai dengan urusan dapur, saya kemudian duduk di depan laptop untuk mengecek hasil rekaman. Di sinilah saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada mata.

Mata SEpet, PErih, LElah Mulai Terasa

Setelah cukup lama menatap layar laptop, mata saya terasa seperti lebih cepat lelah. Rasanya agak sepet dan perih. Saya juga mulai sering berkedip dan beberapa kali mengucek mata karena terasa tidak nyaman.

Saat itu saya baru menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu menganggap remeh kondisi mata. Bayangkan saja, sejak pagi mata sudah diajak bekerja di dapur, terkena asap masakan, kemudian berhadapan dengan kamera, dan setelah itu harus kembali menatap layar laptop untuk editing. Belum lagi ketika sedang live.

Saat live, saya harus terus melihat layar, membaca komentar, memperhatikan kamera, sekaligus berbicara dengan penonton. Aktivitas tersebut terkadang berlangsung cukup lama.

Kalau sudah begitu, mata terasa semakin lelah.

Inilah yang kemudian membuat saya sadar bahwa Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein! Mata SEpet, PErih, dan LElah ternyata bisa muncul ketika mata terlalu banyak digunakan atau berada dalam kondisi yang membuatnya kurang nyaman.

Ketika Gejala Mata Kering Mengganggu Momen yang Dinantikan


Yang paling membuat saya kapok adalah ketika gejala mata kering tersebut muncul tepat saat saya sedang menyiapkan konten yang sudah lama direncanakan.

Saya ingin hasil videonya maksimal. Saya ingin mengambil gambar makanan dari berbagai angle, membuat close-up ketika kuah dituangkan, merekam tekstur makanan, kemudian melakukan live untuk menceritakan proses memasaknya.

Namun karena mata terasa sepet dan perih, konsentrasi saya ikut terganggu.

Saya jadi lebih sering berhenti untuk mengistirahatkan mata. Padahal, dalam membuat konten cooking, satu momen kecil saja bisa terlewat.

Ketika sedang mengambil gambar, misalnya, saya harus memastikan minyak tidak terlalu panas, makanan tidak gosong, kamera tetap merekam, dan angle tidak berubah.

Kalau mata terasa tidak nyaman, semua pekerjaan terasa menjadi lebih berat.

Momen yang seharusnya menyenangkan pun akhirnya tidak bisa saya nikmati sepenuhnya.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa Gejala Mata Kering bukan sesuatu yang sebaiknya diabaikan begitu saja.

Kenapa Mata Kering Sering Tidak Disadari?

Mata adalah salah satu indera yang sangat penting dalam mendukung aktivitas sehari-hari. Sebagai konten kreator, saya benar-benar merasakan betapa pentingnya mata dalam pekerjaan.

Mulai dari membaca resep, melihat bahan makanan, memastikan tingkat kematangan masakan, mengatur kamera, membaca komentar saat live, sampai mengedit video semuanya membutuhkan mata.

Yang membuat saya cukup terkejut, ternyata banyak orang yang mengalami mata kering tetapi tidak menyadarinya.

Gejalanya bisa terasa ringan sehingga sering dianggap sebagai rasa lelah biasa.

Padahal, mata SePeLe SEpet, PErih, LElah bisa menjadi tanda bahwa mata sedang membutuhkan perhatian lebih. Karena itulah menurut saya Mata Kering Jangan Disepelein.

Saya Mulai Mengubah Kebiasaan di Dapur



Setelah mengalami kejadian tersebut, saya mulai lebih memperhatikan kondisi mata.

Bukan berarti saya berhenti memasak atau berhenti membuat konten. Justru saya mulai belajar bagaimana tetap produktif tanpa mengabaikan kenyamanan mata.

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang sekarang saya lakukan.

Pertama, saya berusaha menjaga posisi ketika memasak agar tidak terlalu dekat dengan sumber asap. Kalau sedang menumis cabai atau menggoreng, saya memastikan ventilasi dapur bekerja dengan baik.

Kedua, saya memberikan jeda untuk mata setelah cukup lama berada di depan laptop.

Ketiga, ketika sedang editing, saya berusaha tidak terus-menerus menatap layar tanpa jeda.

Keempat, saya memastikan pencahayaan ruangan cukup nyaman ketika bekerja di depan laptop.

Kelima, saya tidak lagi menganggap rasa sepet, perih, atau lelah pada mata sebagai hal yang boleh diabaikan.

Dan yang tidak kalah penting, saya mencari solusi yang praktis untuk membantu ketika mata terasa kering.

Berkenalan dengan Insto Dry Eyes

Dari situlah saya kemudian mengenal Insto Dry Eyes.

Sebagai orang yang aktivitasnya padat, saya membutuhkan sesuatu yang praktis dan mudah digunakan ketika mata terasa kering.

Setelah mengenal Insto Dry Eyes, saya menggunakannya sesuai petunjuk pada kemasan ketika mengalami keluhan mata kering. Buat saya, kehadiran tetes mata seperti ini cukup membantu ketika mata terasa kurang nyaman setelah seharian beraktivitas di dapur dan di depan layar.

Tentu saja, saya tetap berusaha memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Karena menurut saya, menjaga kesehatan dan kenyamanan mata bukan hanya tentang menggunakan produk ketika mata sudah terasa tidak nyaman, tetapi juga bagaimana kita memperhatikan kebiasaan yang bisa membuat mata cepat lelah.

Sekarang kalau sedang membuat konten dengan banyak cabai, menggoreng makanan, atau harus berlama-lama di depan laptop, saya jadi lebih aware terhadap kondisi mata.

Kalau mulai terasa sepet, perih, atau lelah, saya tidak lagi memaksakan diri.

Tips Menjaga Mata Tetap Nyaman untuk Konten Kreator Cooking

Buat teman-teman yang juga sering berada di dapur sekaligus bekerja di depan laptop, beberapa kebiasaan berikut bisa dicoba:

1. Jangan terlalu dekat dengan asap masakan

Asap dari proses memasak, terutama ketika menggoreng atau memasak menggunakan banyak cabai, bisa membuat mata terasa tidak nyaman. Pastikan sirkulasi udara di dapur cukup baik.

2. Berikan jeda ketika bekerja di depan layar

Editing video memang terkadang membuat kita lupa waktu. Padahal mata juga membutuhkan istirahat. Berikan jeda secara berkala dan alihkan pandangan dari layar.

3. Jangan mengucek mata

Ketika mata terasa gatal atau tidak nyaman, kebiasaan mengucek mata mungkin terasa seperti solusi cepat. Namun sebaiknya hindari mengucek mata terlalu sering.

4. Perhatikan pencahayaan

Bekerja di depan laptop dengan pencahayaan yang kurang nyaman dapat membuat mata terasa lebih cepat lelah.

5. Jangan abaikan gejalanya

Ini yang paling penting.

Ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah, jangan langsung menganggapnya sebagai hal biasa.

Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!

Jika keluhan mata terasa menetap, berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.

Sekarang Saya Lebih Menghargai Mata

Dulu saya berpikir pekerjaan sebagai konten kreator cooking hanya membutuhkan kreativitas dan kemampuan memasak. Ternyata tidak. Saya membutuhkan mata untuk hampir semua prosesnya.

Mata membantu saya melihat warna makanan, memastikan masakan matang, mengatur kamera, membaca komentar followers, mengedit video, membuat thumbnail, sampai menikmati hasil masakan bersama keluarga.

Karena itu, pengalaman mata terasa sepet, perih, dan lelah menjadi pengingat penting bagi saya. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya mata setelah kenyamanannya terganggu.

Sekarang saya tetap menikmati kesibukan di dapur. Tetap membuat sambal, tetap menggoreng, tetap mencoba resep baru, tetap membuat video, dan tetap menyapa followers melalui live. Bedanya, sekarang saya jauh lebih peduli dengan kondisi mata.

Kalau mulai terasa tidak nyaman, saya memberikan waktu untuk beristirahat dan menggunakan solusi yang sesuai seperti Tetesin Insto Dry Eyes ketika diperlukan.

Karena menjadi produktif bukan berarti harus mengabaikan kesehatan diri sendiri. Buat teman-teman yang sehari-harinya juga sibuk memasak, bekerja di depan laptop, menjadi content creator, atau sering berada di depan kamera, yuk mulai lebih peduli dengan mata.

Jangan tunggu sampai mata benar-benar mengganggu aktivitas. Karena sekarang saya percaya, Mata SePeLe Jangan Disepelein! Mari tetap berkarya, tetap produktif, dan tetap menikmati setiap momen tanpa lupa menjaga kenyamanan mata. Bersama pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa di rumah harus selalu sedia #InstoDryEyes agar mata menjadi #BebasMataKering beneran deh Gaiis urusan #MataSePeLeJanganSepelein 

Tidak ada komentar