Liburan Keluarga ke Jogja Bareng Keluarga

 


Ada satu hal yang mungkin hanya dipahami oleh seorang ibu, seperti RianaDewie.com liburan bersama keluarga itu memang menyenangkan, tetapi persiapannya bisa bikin kepala penuh.

Apalagi kalau liburan membawa anak-anak.

Bukan cuma memikirkan mau pergi ke mana, tetapi juga harus memikirkan hotelnya nyaman atau tidak, tempat wisatanya cocok untuk anak atau tidak, perjalanan terlalu melelahkan atau tidak, ada toilet atau tidak, tempat makan mudah ditemukan atau tidak, sampai pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul setiap beberapa jam:

"Nanti kita makan di mana?"

Sebagai mom, kadang rasanya saya harus menjadi travel planner, navigator, bendahara, chef, tim logistik, sekaligus penyelamat suasana hati anak dalam satu waktu.

Saya ingin liburan keluarga berjalan dengan sempurna. Anak-anak senang, suami nyaman, perjalanan lancar, pengeluaran tetap terkendali, dan tentu saja pulang ke rumah membawa cerita menyenangkan.

Untungnya, untuk liburan kali ini pilihan kami jatuh ke Jogja.

Jogja menurut saya adalah salah satu destinasi yang cukup bersahabat untuk liburan keluarga. Banyak tempat yang menarik untuk anak-anak, pilihan kulinernya melimpah, dan yang paling membuat hati seorang ibu bahagia: makanan enak tidak harus mahal.

Kenapa Jogja Cocok untuk Liburan Bersama Anak?

Setiap kali merencanakan liburan keluarga, saya selalu punya beberapa pertimbangan utama.

Pertama, destinasi harus ramah anak.

Kedua, perjalanan jangan sampai terlalu melelahkan.

Ketiga, pilihan makanan harus mudah ditemukan.

Dan yang tidak kalah penting, budget harus tetap masuk akal.

Nah, Jogja punya kombinasi yang cukup lengkap.

Kota ini memiliki banyak pilihan wisata mulai dari wisata sejarah, budaya, alam, edukasi, sampai tempat rekreasi modern. Jadi kalau anak-anak mulai bosan dengan satu jenis aktivitas, kita masih punya banyak alternatif.

Mau mengajak anak mengenal sejarah? Bisa.

Mau bermain di tempat yang lebih modern? Bisa.

Mau jalan-jalan menikmati suasana alam? Ada.

Mau berburu kuliner? Jangan ditanya. Jogja memang surganya makanan!

Inilah yang membuat saya merasa lebih tenang ketika menyusun itinerary.

Tidak harus memaksakan semua tempat wisata dikunjungi dalam satu perjalanan. Justru dengan anak-anak, itinerary yang terlalu padat biasanya malah membuat liburan berubah menjadi lomba mengejar waktu.

Mom dan Drama Menyiapkan Liburan Keluarga

Sebelum berangkat, biasanya saya sudah mulai memikirkan banyak hal.

Baju anak.

Baju ganti.

Perlengkapan mandi.

Obat-obatan pribadi.

Camilan.

Botol minum.

Charger.

Power bank.

Dokumen perjalanan.

Sampai memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal.

Dan tentu saja, ada satu pekerjaan yang cukup menguras energi: membuat itinerary.

Saya biasanya ingin semua kegiatan sudah tersusun.

Hari pertama ke mana.

Besok makan di mana.

Siang mau istirahat atau lanjut jalan.

Kalau anak-anak mulai lelah, tempat alternatifnya apa.

Kalau hujan bagaimana.

Kalau tiba-tiba anak lapar bagaimana.

Pokoknya seorang ibu bisa punya puluhan skenario hanya untuk satu perjalanan.

Namun setelah beberapa kali bepergian bersama anak, saya akhirnya belajar satu hal:

Itinerary itu penting, tetapi jangan sampai itinerary mengalahkan kesenangan liburan.

Anak-anak tidak membutuhkan liburan yang sempurna.

Mereka hanya membutuhkan waktu bersama orang tuanya.

Jogja dan Wisata yang Kids Friendly

Salah satu alasan saya nyaman memilih Jogja adalah banyak destinasi yang bisa disesuaikan dengan usia dan minat anak.

Misalnya, keluarga bisa mengajak anak menikmati kawasan Malioboro. Jalan-jalan santai, melihat suasana kota, berburu oleh-oleh, dan menikmati jajanan bisa menjadi pengalaman sederhana tetapi menyenangkan.

Untuk anak yang senang dengan sejarah dan budaya, ada kawasan Keraton Yogyakarta dan berbagai destinasi budaya lainnya.

Sementara untuk keluarga yang ingin menikmati wisata edukasi dan rekreasi, tersedia banyak pilihan destinasi yang memungkinkan anak belajar sambil bermain.

Jogja juga punya banyak pilihan wisata alam di sekitar kota.

Artinya, kita tidak harus terus-menerus berada di dalam ruangan.

Anak-anak bisa melihat sesuatu yang baru, bermain, berjalan-jalan, sekaligus mendapatkan pengalaman yang tidak mereka dapatkan setiap hari.

Dan bagi saya sebagai ibu, inilah arti liburan keluarga yang sebenarnya.

Bukan sekadar mencari tempat untuk berfoto, tetapi memberikan pengalaman baru kepada anak-anak.

Jangan Lupa Sisakan Waktu untuk Bermalas-malasan

Ini salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari liburan bersama anak.

Jangan membuat itinerary terlalu penuh.

Kadang sebagai orang dewasa kita merasa sayang kalau sudah jauh-jauh ke Jogja tetapi tidak mengunjungi banyak tempat.

Padahal anak-anak punya energi dan mood yang berbeda.

Pagi mungkin mereka sangat bersemangat.

Siang mulai mengantuk.

Sore mulai rewel.

Malam sudah ingin kembali ke hotel.

Kalau semua dipaksakan, bukan tidak mungkin liburan justru dipenuhi dengan drama.

Karena itu saya lebih suka menggunakan prinsip:

satu atau dua destinasi utama dalam sehari sudah cukup.

Sisanya biarkan menjadi ruang untuk menikmati perjalanan.

Bisa tidur siang di hotel.

Bisa menikmati suasana sekitar penginapan.

Bisa membeli camilan.

Atau sekadar duduk bersama keluarga tanpa harus mengejar tempat wisata berikutnya.

Kuliner Jogja: Bagian Favorit Mom!

Kalau ada satu hal yang membuat saya semakin yakin Jogja cocok untuk liburan keluarga, jawabannya adalah kuliner.

Jogja terkenal dengan banyak makanan tradisional yang sederhana tetapi lezat.

Dan yang paling menyenangkan bagi seorang ibu yang harus menjaga budget keluarga adalah banyak makanan yang masih bisa ditemukan dengan harga relatif ramah di kantong.

Ada gudeg.

Ada nasi kucing.

Ada sate.

Ada bakmi Jawa.

Ada soto.

Ada pecel.

Ada jajanan pasar.

Ada berbagai macam gorengan dan camilan tradisional.

Belum lagi berbagai tempat makan kekinian yang bisa menjadi pilihan ketika anak-anak ingin makanan yang lebih familiar.

Bagi saya, kuliner murah bukan berarti harus mengorbankan rasa.

Justru salah satu keseruan liburan di Jogja adalah bisa menemukan tempat makan sederhana yang rasanya enak.

Gudeg, Kuliner yang Wajib Dicoba

Berbicara tentang Jogja tentu tidak lengkap tanpa gudeg.

Makanan yang satu ini sudah menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta.

Rasanya manis gurih dan biasanya disajikan bersama nasi, ayam, telur, tahu, tempe, serta sambal krecek.

Untuk anak-anak yang belum terbiasa dengan rasa pedas, kita bisa memilih lauk yang lebih aman seperti telur atau ayam dan mengurangi sambalnya.

Bagi saya, makan gudeg bersama keluarga bukan hanya tentang makanan.

Ada pengalaman yang ikut dibawa pulang.

Anak-anak jadi tahu bahwa setiap daerah memiliki makanan khas dan cerita kulinernya sendiri.

Berburu Bakmi Jawa Bersama Keluarga

Selain gudeg, bakmi Jawa juga menjadi salah satu kuliner yang menarik untuk dicoba.

Ada sensasi tersendiri ketika menikmati bakmi Jawa yang dimasak satu per satu menggunakan tungku tradisional.

Aromanya khas.

Rasanya juga berbeda dengan mi instan yang biasa disantap di rumah.

Anak-anak biasanya juga lebih mudah menerima makanan seperti mi, sehingga bakmi Jawa bisa menjadi salah satu pilihan ketika mereka mulai bosan dengan menu lainnya.

Jajanan Murah untuk Anak

Liburan bersama anak rasanya tidak pernah lengkap tanpa sesi jajan.

Baru saja selesai makan, beberapa menit kemudian sudah terdengar:

"Mom, beli ini dong."

Lalu beberapa menit berikutnya:

"Mom, haus."

Dan setelah itu:

"Mom, aku lapar lagi."

Entah bagaimana perut anak-anak seolah memiliki kapasitas khusus untuk makanan saat sedang liburan.

Untungnya, Jogja punya banyak pilihan jajanan.

Mulai dari jajanan tradisional, gorengan, es, makanan ringan hingga berbagai camilan kekinian.

Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua mengatur porsinya.

Saya biasanya tidak melarang anak jajan sama sekali. Justru momen mencoba makanan lokal bisa menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Tetapi tetap saya batasi agar tidak terlalu banyak dan tidak membuat anak sakit perut.

Liburan Hemat Bukan Berarti Liburan Pelit

Sebagai ibu, saya selalu berusaha mencari keseimbangan.

Anak-anak tetap mendapatkan pengalaman menyenangkan, tetapi keuangan keluarga juga tetap aman.

Apalagi liburan keluarga biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Transportasi.

Penginapan.

Tiket masuk.

Makan.

Jajan.

Oleh-oleh.

Semua harus diperhitungkan.

Karena itu saya selalu berusaha menerapkan konsep liburan sesuai kemampuan.

Tidak perlu memaksakan makan di restoran mahal setiap hari.

Tidak perlu mengunjungi semua tempat wisata.

Tidak perlu membeli semua oleh-oleh.

Yang penting kebutuhan utama terpenuhi dan keluarga tetap bisa menikmati perjalanan.

Jogja sangat membantu dalam hal ini karena pilihan aktivitas dan kulinernya cukup beragam.

Kita bisa memilih pengalaman yang sesuai dengan budget.

Tips Mengatur Budget Liburan Keluarga ke Jogja

Ada beberapa cara sederhana yang biasanya saya lakukan.

1. Tentukan budget sebelum berangkat

Jangan baru menghitung pengeluaran setelah pulang.

Pisahkan anggaran untuk transportasi, hotel, makan, wisata, oleh-oleh, dan dana darurat.

2. Buat budget makan harian

Misalnya sudah menentukan berapa maksimal anggaran makan satu keluarga dalam sehari.

Dengan begitu, ketika ada pengeluaran tambahan untuk jajan, kita masih bisa menyesuaikannya.

3. Tidak harus selalu makan di tempat viral

Tempat makan yang viral memang menarik untuk dicoba.

Tetapi bukan berarti semua makanan harus berasal dari tempat viral.

Warung sederhana terkadang justru memberikan pengalaman kuliner yang lebih berkesan.

4. Pilih wisata sesuai minat anak

Jangan memasukkan terlalu banyak destinasi hanya karena sedang populer.

Kalau anak tidak tertarik, ujung-ujungnya hanya menghabiskan biaya dan tenaga.

5. Siapkan camilan dari rumah

Ini sederhana tetapi cukup membantu.

Camilan bisa menjadi penyelamat ketika perjalanan sedang macet atau jarak menuju tempat makan masih jauh.

6. Sisihkan dana tak terduga

Ini wajib!

Karena kalau bepergian bersama anak, selalu ada kemungkinan muncul pengeluaran di luar rencana.

Entah membeli pakaian karena baju anak terkena tumpahan makanan atau membeli perlengkapan tertentu yang ternyata tertinggal.

Hotel Juga Harus Kids Friendly

Selain destinasi wisata, penginapan menjadi pertimbangan penting.

Saya tidak selalu mencari hotel yang paling mewah.

Yang penting bersih, aman, nyaman, lokasi cukup strategis, dan fasilitasnya sesuai kebutuhan keluarga.

Kalau membawa anak, saya juga lebih senang hotel yang memiliki area untuk anak atau setidaknya ruang yang cukup nyaman untuk mereka beristirahat.

Sebab setelah seharian jalan-jalan, anak-anak membutuhkan waktu untuk recharge.

Dan sebenarnya orang tua juga.

Karena liburan bersama anak itu menyenangkan, tetapi tetap melelahkan.

Jangan Lupa: Anak Bisa Bosan

Ini hal yang sering dilupakan orang tua ketika membuat itinerary.

Kita mungkin sangat bersemangat melihat tempat baru.

Tetapi anak belum tentu merasakan hal yang sama.

Karena itu saya selalu berusaha menyisipkan aktivitas yang memang mereka sukai.

Kalau anak senang bermain, pilih destinasi yang menyediakan ruang bermain.

Kalau mereka suka hewan, pilih tempat wisata yang berkaitan dengan satwa.

Kalau mereka suka air, bisa mencari destinasi dengan aktivitas air.

Kalau mereka suka sejarah, buat perjalanan terasa seperti petualangan.

Dengan begitu, liburan bukan terasa seperti "mengikuti agenda orang tua", tetapi benar-benar menjadi pengalaman keluarga.

Liburan Tidak Harus Sempurna

Sebagai seorang mom, saya memang sering merasa harus membuat semuanya sempurna.

Hotel harus bagus.

Makanan harus enak.

Destinasi harus menarik.

Anak tidak boleh rewel.

Perjalanan harus lancar.

Foto keluarga harus bagus.

Tetapi semakin sering bepergian bersama anak, saya semakin memahami bahwa liburan yang berkesan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kadang hujan datang tiba-tiba.

Kadang anak mengantuk ketika baru sampai tempat wisata.

Kadang makanan yang kita pesan ternyata tidak sesuai ekspektasi.

Kadang itinerary berantakan karena semua anggota keluarga ingin beristirahat.

Dan ternyata tidak apa-apa.

Justru dari kejadian-kejadian kecil itulah cerita perjalanan terbentuk.

Jogja Mengajarkan Saya Menikmati Perjalanan

Liburan ke Jogja kali ini membuat saya kembali diingatkan bahwa perjalanan keluarga bukan tentang seberapa banyak destinasi yang berhasil dikunjungi.

Bukan pula tentang berapa banyak foto yang berhasil diabadikan.

Yang paling penting adalah waktu yang kita habiskan bersama.

Melihat anak-anak tertawa ketika menemukan sesuatu yang baru.

Mendengar mereka berkomentar tentang makanan yang belum pernah dicoba.

Melihat wajah mereka ketika pertama kali mengunjungi sebuah tempat.

Atau bahkan sekadar duduk bersama menikmati makanan sederhana setelah seharian berjalan-jalan.

Bagi seorang ibu, momen-momen seperti itu jauh lebih berharga daripada itinerary yang sempurna.

Dan Jogja memberikan ruang yang cukup untuk itu.

Tempat wisatanya beragam, banyak pilihan yang ramah anak, suasananya menyenangkan, dan kulinernya membuat perjalanan semakin lengkap.

Yang paling penting, Travel di Jogja tidak harus selalu identik dengan pengeluaran besar.

Dengan perencanaan yang baik, memilih destinasi sesuai kebutuhan anak, pintar mencari tempat makan, dan tidak memaksakan terlalu banyak aktivitas, liburan tetap bisa menyenangkan sekaligus ramah di kantong.

Penutup: Karena Liburan Terbaik Adalah Saat Semua Pulang dengan Bahagia

Pada akhirnya, standar liburan sempurna versi seorang ibu mungkin memang sedikit berbeda.

Saya tidak lagi mengejar perjalanan yang semuanya harus sesuai rencana.

Saya lebih memilih perjalanan yang membuat anak-anak bahagia, suami nyaman, dan saya sendiri tidak pulang dengan rasa terlalu lelah.

Jogja menjadi salah satu pilihan yang menyenangkan karena kota ini menawarkan banyak hal dalam satu perjalanan.

Ada budaya.

Ada sejarah.

Ada wisata keluarga.

Ada alam.

Ada jajanan.

Ada kuliner khas.

Dan tentu saja ada banyak cerita yang bisa dibawa pulang.

Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya, "Kenapa pilih Jogja untuk liburan keluarga?"

Jawaban saya sederhana:

Karena di Jogja, anak-anak bisa punya banyak pengalaman baru, sementara mom masih bisa menjaga budget keluarga tetap waras.

Dan bagi seorang ibu yang sehari-hari sudah sibuk mengurus keluarga, kombinasi seperti itu rasanya sudah cukup untuk menyebut sebuah liburan yang membahagiakan.

Tidak ada komentar