Cerita hidup dulu itu penuh dengan kenangan manis. Pagi di hari minggu selalu terasa lebih hangat dari
biasanya. Bukan karena matahari, tapi karena ada satu hal yang selalu kutunggu
sejak kecil, kepulangan simbah putri dari pasar.
Aku masih ingat jelas, suara sandal jepitnya yang khas dari
kejauhan. “Plak… plak… plak…” pelan tapi pasti. Aku yang sejak
tadi duduk di depan rumah langsung berdiri, berlari kecil sambil berharap hari
ini beliau membawa jajanan favoritku.
Dan benar saja.
Dari dalam tas anyaman sederhana, simbah mengeluarkan dua
bungkus daun pisang yang masih hangat. Aromanya langsung menyeruak, manis,
gurih, dan menenangkan. Itu dia bubur sumsum dan jenang grendul.
Aku tersenyum lebar.
Kenangan yang Tak Tergantikan
Simbah selalu duduk di kursi kayu, membuka perlahan bungkus
daun pisang itu. Uap hangat masih terlihat mengepul. Bubur sumsum yang lembut
dengan kuah gula merah yang legit, dan jenang grendul dengan bulatan kenyal
yang terasa seperti kebahagiaan kecil di setiap gigitan.
“Pelan-pelan makannya, Nduk… masih panas,” kata simbah
sambil tersenyum.
Tapi mana bisa aku sabar?
Setiap suapan terasa istimewa. Bukan hanya karena rasanya,
tapi karena ada cinta di dalamnya. Rasanya seperti dunia berhenti sejenak hanya
ada aku, simbah, dan jajanan pasar kesukaan.
Kenapa Bubur Sumsum & Jenang Grendul Jadi Favorit?
Seiring aku tumbuh dewasa, aku baru sadar kenapa dua makanan
ini begitu membekas di hati:
1. Rasa yang Sederhana Tapi Ngangenin
Bubur sumsum itu lembut, gurih dari santan, berpadu dengan
manisnya gula merah. Sementara jenang grendul punya tekstur unik—kenyal di
luar, lembut di dalam, dengan kuah manis yang hangat.
2. Aroma Tradisional yang Khas
Aroma daun pandan dan gula aren itu benar-benar bikin
nostalgia. Sekali cium, langsung kebawa ke masa kecil.
3. Jarang Ditemukan Sekarang
Zaman sekarang, jajanan pasar seperti ini sudah mulai sulit
ditemukan, apalagi yang rasanya autentik seperti buatan simbah dulu.
4. Ada Nilai Emosional
Bukan sekadar makanan, tapi simbol kasih sayang, perhatian,
dan momen sederhana yang tak bisa diulang.
Karena Susah Dicari, Yuk Masak Sendiri di Rumah
Daripada terus kangen tanpa solusi, akhirnya aku mencoba
membuat sendiri. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan!
Resep Bubur Sumsum
Bahan:
- 100
gram tepung beras
- 700 ml
santan
- 1/2
sdt garam
- 2
lembar daun pandan
Kuah gula merah:
- 150
gram gula merah
- 200 ml
air
- 1
lembar daun pandan
Cara Membuat:
- Campurkan
tepung beras, santan, dan garam. Aduk rata.
- Masak
dengan api kecil sambil terus diaduk agar tidak menggumpal.
- Tambahkan
daun pandan, masak sampai mengental dan lembut.
- Untuk
kuah: rebus gula merah, air, dan pandan sampai larut, lalu saring.
- Sajikan
bubur sumsum dengan siraman gula merah.
Resep Jenang Grendul
Bahan:
- 100
gram tepung ketan
- Air
secukupnya (untuk adonan)
Kuah santan:
- 500 ml
santan
- 1/2
sdt garam
- 1
lembar daun pandan
Kuah gula merah:
- 150
gram gula merah
- 250 ml
air
- 1
lembar daun pandan
Cara Membuat:
- Campur
tepung ketan dengan air, uleni hingga kalis.
- Bentuk
bulatan kecil-kecil (grendul).
- Rebus
dalam air mendidih sampai mengapung (tanda sudah matang).
- Rebus
santan dengan garam dan pandan sambil diaduk agar tidak pecah.
- Buat
kuah gula seperti pada bubur sumsum.
- Sajikan
grendul dengan kuah santan dan gula merah.
Penutup: Rasa yang Membawa Pulang
Sekarang, setiap kali aku memasak bubur sumsum atau jenang
grendul di rumah, rasanya seperti menghadirkan kembali simbah putri di dapur
kecilku.
Mungkin rasanya tidak akan pernah benar-benar sama. Tapi setidaknya, setiap suapan membawa pulang kenangan tentang cinta sederhana, tentang masa kecil, dan tentang seseorang yang dulu selalu pulang membawa jajanan pasar sebagai kebahagiaan kecil di tangannya

Tidak ada komentar